FOTO-FOTO KEGIATAN DAUROH VILLA HIDAYATULLAH BATU MALANG
Dauroh ini dihadiri oleh 66 perwakilan pondok pesantren di seluruh jawa timur. diantaranya adalah pondok pesantren Hidayatullah Surabaya.
01 Oktober, 2007
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
09:40
|
Link ke posting ini
>>>>Dauroh Berbahasa Arab di Villa Hidayatullah Batu Malang <<<
Suasana Pembukaan Dauroh Tsaqofah Islamiyah dengan menggunakan Bahasa Arab yang diselenggarakan oleh DDII Indonesia bekerja sama dengan kementrian urusan agama kerajaan Saudi arabia.
الحمد لله ولي التوفيق، ومهدي من استهداه لأقوم الطريق. والصلاة والسلام على سيدنا محمد سيد الداعين وإمام الهادين. ورضي الله عن أصحابه الغرَّ الميامين وسلم تسليماً.
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
09:27
|
Link ke posting ini
27 September, 2007
PRIORITAS PERKARA POKOK ATAS PERKARA CABANG
PERHATIAN utama yang harus kita berikan dalam perkara yang
diperintahkan ini ialah memberikan prioritas kepada perkara
pokok atas cabang. Yaitu mendahulukan perkara-perkara pokok,
mendahulukan hal-hal yang berkaitan dengan iman dan tauhid
kepada Allah, iman kepada para malaikatNya, kitab-kitab
suci-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir; yang dikatakan
sebagai rukun iman sebagaimana dijelaskan oleh al-Qur'an:"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan baratSelengkapnya......
itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian
itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab dan nabi-nabi..."
(al-Baqarah:177)
"Rasul telah beriman kepada al-Qur'an yang diturunkan
kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang
beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan
rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak
membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain)
dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami
dengar dan kami tobat." (Mereka berdoa): "Ampunilah
kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat
kembali."" (al-Baqarah: 285)
"... Barangsiapa kafir kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya, dan lari kemudian, maka sesungguhnya
orang itu telah sesat sejauh-jauhnya." (an-Nisa': 136)
Tidak ada ayat yang menyebutkan iman kepada takdir sekaligus
memasukkannya ke dalam pokok aqidah, karena sesungguhnya iman
kepada takdir ini sudah termasuk di dalam iman kepada Allah
SWT. Iman kepada takdir merupakan bagian dari iman kepada
kesempurnaan Ilahi, ilmu-Nya yang meliputi segalanya,
kehendak-Nya yang luas, dan kekuasaan-Nya yang pasti
Aqidah adalah masalah pokok, sedang syari'ah adalah perkara
cabang.
Iman adalah perkara pokok, sedangkan amalan merupakan perkara
cabang.
Kami tidak ingin memperpanjang perbincangan para ahli ilmu
kalam di sekitar hubungan amal dan iman, apakah amal merupakan
bagian dari iman, ataukah dia merupakan buah darinya? Apakah
iman merupakan syarat bagi terwujudnya amal sekaligus bukti
bagi kesempurnaannya?
Keimanan yang benar harus membuahkan amalan. Sejauh keimanan
yang dimiliki oleh seseorang, maka akan sejauh itu pula amal
perbuatannya, dan sejauh itu pula dia melakukan perintah yang
diberikan kepadanya, serta menjauhi larangannya.
Amal perbuatan yang tidak dilandasi dengan iman yang benar
tidak akan ada nilainya di sisi Allah SWT; sebagaimana
digambarkan oleh al-Qur'an berikut ini:
"... bagaikan fatamorgana di tanah yang datar, yang
disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila
didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu
apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya,
lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal
dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat
perhitungan-Nya." (an-Nur: 39)
Oleh karena itu, perkara paling utama untuk didahulukan dan
harus diberi perhatian yang lebih daripada yang lainnya adalah
meluruskan aqidah, memurnikan tauhid, memberantas kemusyrikan
dan khurafat, mengokohkan benih-benih keimanan dalam hati,
sehingga membuahkan hasil yang bisa dinikmati dengan izin dari
tuhannya, yang akhirnya kalimat tauhid "La ilaha illa Allah"
dapat bersemayam di dalam jiwa, menjadi cahaya hidup,
menerangi gelapnya pemikiran manusia dan kegelapan
perilakunya.
Al-Muhaqqiq Ibn al-Qayyim berkata, "Ketahuilah bahwa pancaran
sinar 'La ilaha illa Allah' akan dapat menghancurkan noda-noda
dosa sesuai dengan kadar kekuatan dan kelemahan pancaran
cahaya itu. Orang yang memiliki pancaran cahaya inipun
bermacam-macam kekuatan dan kelemahannya, dan tidak akan ada
orang yang dapat menghitungnya kecuali Allah SWT. Di antara
manusia terpadat orang yang memiliki cahaya itu di dalam
hatinya bagaikan matahari; ada yang cahaya di dalam hatinya
itu bagaikan bintang; ada cahaya yang bagaikan api yang
membara; ada yang seperti lentera; dan yang terakhir sekali
bagaikan lampu yang sangat lemah sinarnya."
Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak cahaya-cahaya itu akan
tampak sesuai dengan kadar keimanan yang dimiliki oleh
manusia. Cahaya itu akan memancar sesuai dengan ilmu dan amal,
makrifat dan keadaan cahaya kalimat yang memancar dari hati
manusia.
Semakin besar pancaran cahaya kalimat itu di dalam hati
manusia, maka ia akan membakar segala bentuk syubhat dan hawa
nafsu sesuai dengan kekuatannya. Sehingga kadar pembakaran itu
sampai kepada tingkat pembersihan yang sangat sempurna
terhadap syubhat dan syahwat; yang pada akhirnya tidak ada
dosa kecuali dosa itu akan dibakar olehnya. Itulah keadaan
orang yang tauhidnya benar, yang tidak mempersekutukan
sesuatupun dengan Allah SWT.
Siapa yang memahami makna uraian tersebut, maka dia akan
mengetahui makna sabda Nabi saw,
"Sesungguhnya Allah SWT mengharamkan api neraka kepada
orang yang mengucapkan La ilaha illa Allah, semata-mata
untuk mencapai keridhaan-Nya."
"Tidak akan masuk api neraka orang yang mengucapkan La
ilaha illa Allah,"
dan juga sabda-sabda beliau yang lainnya yang banyak membuat
kemusykilan bagi manusia, sehingga mereka menduga bahwa
hadits-hadits itu telah dihapuskan. Ada pula yang menyangka
bahwa hadits-hadits itu diturunkan sebelum turunnya perintah
dan larangan, serta mapannya syari'ah ini. Sebagian yang lain
mengartikannya api kaum musyrik dan kafir. Dan ada pula yang
mentakwilkan dengan masuk selama-lamanya ke dalam neraka, dan
berkata, "Maknanya ialah tidak memasuki neraka tersebut
selama-lamanya." Dan lain-lain pentakwilan yang kurang
menyenangkan.
Penetap syari'ah agama ini --Nabi saw-- tidak menjadikan hal
itu bisa dicapai dengan hanya mengucapkan melalui lidah saja.
Dan inilah yang sepatutnya diketahui oleh orang banyak ketika
mereka menjalankan ajaran agama ini. Kalimat itu harus
diucapkan melalui hati dan lidah. Ucapan melalui hati ini
mencakup pengetahuan, pembenaran terhadap kalimat tersebut,
dan pengetahuan terhadap hakikat yang dikandungnya. Ada yang
dinafikan dan ada yang ditetapkan. Seseorang mesti mengetahui
hakikat Ilahiah yang harus dinafikan dari selain Allah, karena
ia hanya kbusus bagi-Nya; serta ada sesuatu yang sangat
mustahil dimiliki oleh sesuatu selain Allah SWT. Wujudnya
makna seperti ini di dalam hati --secara ilmu, ma'rifah,
keyakinan dan kenyataan-- sudah pasti dapat menyelamatkan
orang yang mengucapkannya dari api neraka.
Orang yang mengucapkan kalimat ini dengan lidahnya, tidak
memperhatikan maknanya, dan tidak menghayatinya, dan ucapan
lidahnya tidak sampai kepada hatinya, tidak mengetahui kadar
dan hakikatnya, tetapi dia mengharapkan pahala darinya, maka
dia hanya akan diperhitungkan berdasarkan apa yang terdapat di
dalam hatinya. Karena sesungguhnya semua amal perbuatan tidak
akan diberi keutamaan dari segi bentuk luarnya dan
kuantitasnya. Amal buatan manusia akan diperhitungkan menurut
keyakinan yang telah ada di dalam hatinya. Dua hal ini (bentuk
luar dan keyakinan dalam hati) akan dihitung sebagai satu
kesatuan. Perbedaan di antara kedua hal ini adalah bagaikan
langit dan bumi. Sebagaimana adanya dua orang yang shalat pada
satu baris, tetap kedudukan shalat mereka berbeda seperti
langit dan bumi. [Madarij al-Salikin, 1:329-331]
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
21:55
|
Link ke posting ini
04 Juli, 2007
Rahasia Gerakan Sholat
Suatu ketika Rasulullah SAW berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah.
Selepas menunaikan shalat, beliau menghadap para sahabat untuk ber
silaturahmi dan memberikan tausiyah. Tiba-tiba, masuklah seorang pria
ke dalam masjid, lalu melaksanakan shalat dengan cepat.
Setelah selesai, ia segera menghadap Rasulullah SAW dan mengucapkan
salam. Rasul berkata pada pria itu, “Sahabatku, engkau tadi belum shalat!”
Betapa kagetnya orang itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Ia pun
kembali ke tempat shalat dan mengulangi shalatnya. Seperti sebelumnya
ia melaksanakan shalat dengan sangat cepat. Rasulullah SAW tersenyum
melihat “gaya” shalat seperti itu.
Setelah melaksanakan shalat untuk kedua kalinya, ia kembali mendatangi
Rasulullah SAW. Begitu dekat, beliau berkata pada pria itu, “Sahabatku,
tolong ulangi lagi shalatmu! Engkau tadi belum shalat.”
Lagi-lagi orang itu merasa kaget. Ia merasa telah melaksanakan shalat
sesuai aturan. Meski demikian, dengan senang hati ia menuruti perintah
Rasulullah SAW. Tentunya dengan gaya shalat yang sama.
Namun seperti “biasanya”, Rasulullah SAW menyuruh orang itu mengulangi
shalatnya kembali. Karena bingung, ia pun berkata, “Wahai Rasulullah,
demi Allah yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak bisa melak
sanakan shalat dengan lebih baik lagi. Karena itu, ajarilah aku!”
“Sahabatku,” kata Rasulullah SAW dengan tersenyum, “Jika engkau berdiri
untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah, kemudian bacalah Al-Fatihah
dan surat dalam Alquran yang engkau pandang paling mudah. Lalu, rukuklah
dengan tenang (thuma’ninah), lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak.
Selepas itu, sujudlah dengan tenang, kemudian bangunlah hingga engkau duduk
dengan tenang. Lakukanlah seperti itu pada setiap shalatmu.”
Kisah dari Mahmud bin Rabi’ Al Anshari dan diriwayatkan Imam Bukhari dalam
Shahih-nya ini memberikan gambaran bahwa shalat tidak cukup sekadar “benar”
gerakannya saja, tapi juga harus dilakukan dengan tumaninah, tenang, dan khusyuk.
Kekhusukan ruhani akan sulit tercapai, bila fisiknya tidak khusyuk. Dalam
arti dilakukan dengan cepat dan terburu-buru. Sebab, dengan terlalu cepat,
seseorang akan sulit menghayati setiap bacaan, tata gerak tubuh menjadi
tidak sempurna, dan jalinan komunikasi dengan Allah menjadi kurang optimal.
Bila hal ini dilakukan terus menerus, maka fungsi shalat sebagai pencegah
perbuatan keji dan munkar akan kehilangan makna. Karena itu, sangat beralasan
bila Rasulullah SAW mengganggap “tidak shalat” orang yang melakukan shalat
dengan cepat (tidak tumaninah).
Hikmah gerakan shalat
Sebelum menyentuh makna bacaan shalat yang luar biasa, termasuk juga aspek
“olah rohani” yang dapat melahirkan ketenangan jiwa, atau “jalinan komunikasi”
antara hamba dengan Tuhannya, secara fisik shalat pun mengandung banyak keajaiban.
Setiap gerakan shalat yang dicontohkan Rasulullah SAW sarat akan hikmah dan
bermanfaat bagi kesehatan. Syaratnya, semua gerak tersebut dilakukan dengan
benar, tumaninah serta istikamah (konsisten dilakukan).
Dalam buku Mukjizat Gerakan Shalat, Madyo Wratsongko MBA. mengungkapkan bahwa
gerakan shalat dapat melenturkan urat syaraf dan mengaktifkan sistem keringat
dan sistem pemanas tubuh. Selain itu juga membuka pintu oksigen ke otak, mengeluarkan muatan listrik negatif dari tubuh, membiasakan pembuluh darah halus di otak mendapatkan tekanan tinggi, serta membuka pembuluh darah di bagian dalam tubuh (arteri jantung).
Kita dapat menganalisis kebenaran sabda Rasulullah SAW dalam kisah di awal.
“Jika engkau berdiri untuk melaksanakan shalat, maka bertakbirlah.”
Saat takbir Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya ke atas hingga sejajar
dengan bahu-bahunya (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar). Takbir ini dilakukan
ketika hendak rukuk, dan ketika bangkit dari rukuk.
Beliau pun mengangkat kedua tangannya ketika sujud. Apa maknanya? Pada saat
kita mengangkat tangan sejajar bahu, maka otomatis kita membuka dada, memberikan aliran darah dari pembuluh balik yang terdapat di lengan untuk dialirkan ke bagian otak pengatur keseimbangan tubuh, membuka mata dan telinga kita, sehingga keseimbangan tubuh terjaga.
“Rukuklah dengan tenang (tumaninah).” Ketika rukuk, Rasulullah SAW meletakkan
kedua telapak tangan di atas lutut (HR Bukhari dari Sa’ad bin Abi Waqqash).
Apa maknanya? Rukuk yang dilakukan dengan tenang dan maksimal, dapat merawat
kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang (sebagai syaraf
sentral manusia) beserta aliran darahnya. Rukuk pun dapat memelihara kelenturan tuas sistem keringat yang terdapat di pungggung, pinggang, paha dan betis belakang. Demikian pula tulang leher, tengkuk dan saluran syaraf memori dapat terjaga kelenturannya dengan rukuk. Kelenturan syaraf memori dapat dijaga dengan mengangkat kepala secara maksimal dengan mata mengharap ke tempat sujud.
“Lalu bangunlah hingga engkau berdiri tegak.” Apa maknanya? Saat berdiri dari
dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun ke bawah, sehingga bagian pangkal otak yang mengatur keseimbangan berkurang tekanan darahnya. Hal ini dapat menjaga syaraf keseimbangan tubuh dan berguna mencegah pingsan secara tiba-tiba.
“Selepas itu, sujudlah dengan tenang.” Apa maknanya? Bila dilakukan dengan benar dan lama, sujud dapat memaksimalkan aliran darah dan oksigen ke otak atau kepala, termasuk pula ke mata, telinga, leher, dan pundak, serta hati. Cara seperti ini efektif untuk membongkar sumbatan pembuluh darah di jantung, sehingga resiko terkena jantung koroner dapat diminimalisasi.
“Kemudian bangunlah hingga engkau duduk dengan tenang.” Apa maknanya? Cara duduk di antara dua sujud dapat menyeimbangkan sistem elektrik serta syaraf keseimbangan tubuh kita. Selain dapat menjaga kelenturan syaraf di bagian paha dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari-jari kaki. Subhanallah!
Masih ada gerakan-gerakan shalat lainnya yang pasti memiliki segudang keutamaan, termasuk keutamaan wudhu. Semua ini memperlihatkan bahwa shalat adalah anugerah terindah dari Allah bagi hamba beriman.
Wallaahu a’lam.
Harian Republika, Jumat, 24 Februari 2006
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
12:01
|
Link ke posting ini
Label: Sholat
25 Mei, 2007
PERHATIAN DUNIA EDU
digunakan oleh semua negara yang sedang berkembang (developing country). Di bidang pendidikan, negara mana yang tidak dapat disebut developing country?
Sebelum desentralisasi, beberapa sekolah di Indonesia sudah melaksanakan proses Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) secara mandiri dan mereka mampu mengatasi banyak masalah-masalah yang berkaitan dengan pengembangan sekolah secara internal. Sekolah-sekolah ini, sebagian yang didaftar (sebelah kiri), disebut sebagai pelopor, dan perkembangannya sebenarnya cukup hebat. Kepala sekolah juga termasuk berani kalau kita melihat keadaan lingkungan dan paradigma sistem manajemen pendidikan saat itu.
Sekarang, di beberapa propinsi di Indonesia kami mulai dapat melihat kemampuan sebenarnya dari MBS karena dukungan yang diberikan dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pendidikan. Transformasi yang dilaksanakan luar biasa. Proses MBS tidak dapat disebut baru di Indonesia, tetapi pelaksanaan sekarang dibuktikan dapat mengubah kebudayaan dan sistem supaya pengembangannya menjadi efektif dan "sustainable".
Apa yang membuat implementasi sekarang menjadi efektif?
Dasarnya adalah - Manajemen implementasi yang bagus. Seperti semua inisiatif yang lain, manajemen yang bagus adalah kunci untuk implementasi yang afektif. Bila perubahan sistemik dilaksanakan tanpa perubahan kebudayaan organisasi, implementasinya sering gagal dan kembali ke keadaan sebelumnya, seperti kita sudah melihat dulu setelah kepala sekolah yang mendorong prosesnya dipindahkan ke sekolah yang lain.
Untuk implementasi yang bagus semua stakeholder harus sangat mengerti peran mereka masing-masing. Sesuai dengan etos MBS peran mereka tidak dapat dipastikan dari awal secara hitam di atas putih, mereka perlu, secara proses terbuka, mendiskusikan dan menukar pikiran supaya peran mereka yang paling mendukung guru di lapangan dan proses belajar-mengajar secara maksimal dapat ditentukan. Di dalam program baru, tidak ada peserta (stakeholder) yang dianggap superior, semua stakeholder walau mereka adalah Dewan Pendidikan, guru baru, atau orang tua yang petani, membawa input (pengalaman) dan kebutuhan mereka ke meja diskusi untuk mencari jalan terbaik untuk membantu stakeholder yang lain maupun keperluan mereka sendiri. Sekarang, yang juga sangat mendukung prosesnya adalah kita sekalian mengimplementasikan PAKEM (Contextual Learning).
Bila proses-proses di atas sudah diikuti dengan baik, dan berjalan secara efektif kita seharusnya dapat melihat situasi pengajaran dan pelajaran yang lebih baik, tetapi bila kita tidak mulai menghadapi hal cara siswa kita belajar, dan apa yang mereka pelajari keuntungan mungkin tidak dapat dilihat dari hasil karya mereka (outcomes). Yang pertama, apa maksud kami "apa yang mereka pelajari". Maksud kami bukan kurikulum, kurikulumnya tidak akan diubah. Yang kami maksud adalah mereka perlu mulai belajar mengenai cara mereka belajar (learning how to learn), cara belajar secara penemuan (discovery), secara kreatif, analisa, dan kritis, supaya mereka dapat menjadi pelajar selama hidup (life-long learners) yang efektif.
Bacaan tertarik: Untuk apa pendidikan?
Yang kedua, "cara siswa kita belajar", apa itu PAKEM (Contextual Learning)?
"A conception that helps teachers relate subject matter content to real world situations and motivates students to make connections between knowledge and its applications to their lives as family members, citizens, and workers." (BEST, 2001).
Satu konsep yang membantu guru-guru menghubungkan isinya mata pelajaran dengan situasi keadaan di dunia (real world) dan memotivasikan siswa/i untuk lebih paham hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya kepada hidup mereka sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan karyawan-karyawan.
PAKEM adalah singkatan dari Pembelajaran yang Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Fokus PAKEM adalah pada kegiatan siswa di dalam bentuk group, individu, dan kelas, partisipasi di dalam proyek, penelitian, penelidikan, penemuan, dan beberapa macan strategi yang hanya dibatas dari imaginasi guru.
Phillip Rekdale (Jakarta, November 2005)
Website ini sebagai percobaan untuk menggunakan teknologi yang dapat membantu sosialisasi prinsip-prinsip MBS. Kami akan berusaha untuk memasang informasi yang praktis dan baru dari lapangan mengenai perkembangan sekolah. Tetapi, yang sangat penting untuk sekolah di lapangan adalah informasi, khusus contoh-contoh perkembangan yang langsung dari lapangan. Sekolah-sekolah yang sudah mengimplementasikan program sejenis MBS (berdasar lingkungan sekolah) Mohon mengirim informasi mengenai perkembangan anda ke School-Development.Com supaya informasi anda dapat membantu sekolah lain.
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
10:42
|
Link ke posting ini
Label: Artikel
NO TITLE, NO COMMENTS, NO EFFORT
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
10:37
|
Link ke posting ini
Label: Note_mhs
"NIKMAT atau ISTIDRAJ?
Allah benci dan Dia murkai, maka adzablah yang akan datang menghampiri. Lain Ustads Fuad lain lagi Ustads Habiburrahman el Syirazi (penulis buku fenomenal Ayat-ayat Cinta). Kang Abik sering mengulang kata-kata ini “mudah-mudahan ini Nikmat bukan Istidraj”. Apa Istidraj itu? Istidraj itu sebenarnya adzab juga, tapi adzabnya tidak datang seketika, dia datang setelah didahului ‘Nikmat’. Istidraj itu juga ‘Nikmat’. Bingung kan?
Saya juga tidak mau memilih, apakah Istidraj atau Nikmat yang mendatangiku? Itu hak Allah yang menurunkan Nikmat bagi orang yang dikehendakinya. Tapi juga tidak bisa memilah yang mana yang Nikmat bagiku dan yang mana yang Istidraj bagiku?, cukuplah bagiku meyakini seperti apa yang diyakini oleh Syaikh Hasan Basri, “......., saya meyakini bahwa rezekiku tidak akan tertukar dengan orang lain, maka aku tenang dengan itu, ....”. Kebahagiaan dan kepuasan adalah suatu hal yang sangat berharga bagi seseorang. Ada yang puas karena dia telah mampu menundukkan perasaannya dan perasaan lawan jenisnya, ada yang bahagia karena kiriman uang sudah masuk ke rekeningnya, ada lagi yang bahagia karena memperoleh pekerjaan, ada yang puas karena prestasinya tidak anjlok. Bahkan ada yang bahagia karena baru saja dia lepas dari problemanya. Entah apapun bentuknya, kita kembalikan dan tanyakan pada kita sendiri. Apakah yang kita peroleh itu benar Nikmat atau bukan. Kalau bukan Nikmat pasti yang lain.
“Ketika saya menulis buku, baik Ayat-Ayat Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, Nyanyian Cinta, maupun karya-karya saya yang lain selalu ada ribuan pertanyaan yang berkecamuk dalam benak & jiwa saya: Apakah karya saya itu nantinya akan mendatangkan rahmat atau malah mengundang Azab? Apakah karya saya itu akan memberikan kontribusi positif bagi umat atau malah sebaliknya? Apakah karya saya itu akan membangun jiwa atau malah merusak jiwa? Apakah karya saya itu akan dinilai ibadah oleh Allah atau dinilai sebuah dosa besar yang tak terampuni oleh-Nya? Saya takut jangan-jangan saya tidak bisa mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Allah Azza wa Jalla” kata Ustad Habiburrahman dalam sebuah wawancara dengannya. Akhir-akhir ini, telah terjadi beberapa peristiwa penting yang perlu dicatat oleh kita, seperti pergantian kepemimpinan PPH yang pasti akan merombak struktur kepengurusan di lembaga-lembaga di bawahnya. Peristiwa lain, adalah STAIL “dikenalkan” tanpa harus mengenalkan ke Public oleh saudaranya sendiri, BMH. Bagi saya, jalan dan gerakan seseorang itu sudah merupakan pelajaran terpenting baginya. Tiap orang punya jalan kehidupan yang berbeda. Hanya saja, kita berharap semua yang terjadi benar-benar menjadi Nikmat yang besar dari Allah, al-Mun’im. Berbagai ucapan selamat dan bantuan orang lain pada kita bukan merupakan Istidraj dari_Nya. Terakhir, karya tulis kita, apapun bentuknya, apalagi semester delapan lagi sibuk menggarap Skripsi, benar-benar bermanfaat dan memberikan kontribusi yang positif bagi umat.
Damanhuri.Surabaya, Jumat, 19 April 2007
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
10:34
|
Link ke posting ini
Label: TanPas
JIWA PENDIDIKAN
Banyak kondisi yang dilalui dan dialami oleh manusia yang membuatnya kehilangan kendali diri dan akhirnya kondisi itu menguasai dirinya sehingga timbullah berbagai fitnah dan pertikaian. Pertikaian ini bisa terjadi di mana saja dan dalam berbagai kepentingan apa saja. Fitnah yang disebabkan karena lepasnya kendali ini, amat berat dan besar dampaknya baik pada orang tersebut maupun terhadap orang lain. Sejarah peradaban manusia senantiasa diwarnai dengan tinta pertikaian. Jenis pertikaiannya pun beragam, mulai dari yang paling kecil sampai pertikaian antar negara bahkan pertikaian antar beberapa negara dengan yang lain.
Peristiwa “kekerasan” di IPDN, yang menewaskan beberapa mahasiswanya merupakan sebuah bukti hilangnya kendali dalam diri manusia. Manusia yang sejatinya suka terhadap keamanan dan kedamaian akan terusik dengan kepentingan-kepentingan sesaat yang nisbi dan menipu. Budaya balas dendam, misalnya, di institut kedinasan ini juga merupakan ajang melepas kendali diri yang seharusnya diikat dengan kuat sehingga tidak mudah lepas dan putus oleh kepentingan sesaat. Situasi lingkungan juga memberikan dampak pada seseorang dalam menciptakan kondisi bagi dirinya. Ketika situasi itu dibangun dengan baik maka akan berpengaruh terhadap pembentukan kondisi yang baik pula. Wacana membubarkan institut kedinasan milik pemerintah, saya anggap sebagai langkah yang kurang tepat, walaupun pemerintah tidak terlalu “tabah” untuk melakukannya. Karena IPDN dengan berbagai peristiwanya, tetap “dibutuhkan” oleh pemerintah. Praja yang dihasilkan oleh institut ini pula yang akan dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintah. Hanya, kepentingan politik dan kekuasaan yang “kotor” jangan sampai mengotori sistem yang ada dalam pendidikan. Karena akhir dari pengkaburan orientasi pendidikan ke orientasi politik Indonesia yang kotor akan menyebabkan kehancuran. Bahkan jiwa pendidikan akan tergantikan dengan jiwa haus kekuasaan dan politik.
Maka, yang paling urgen, saat ini adalah mengubah sistem yang sudah terbukti gagal dalam tubuh IPDN sendiri dan menggantinya dengan sistem yang lebih menghargai dan menghormati kemanusiaan. Kalau perlu pemerintah mengganti pelaku dan pelaksana pendidikan IPDN dengan praja-praja yang tidak kerdil dan tidak takut terhadap gertakan. Orientasi sebuah pendidikan kedinasan yang menyiapkan pemimpin harus menuju pada orientsi membentuk profil pemimpin yang ideal. Pemerintah bukan membubarkan lembaga pendidikan kedinasannya akan tetapi membubarkan sistem yang dipakai selama ini oleh pendidikan kedinasan itu sendiri dan menggantinya dengan sistem pendidikan islam yang berorientasi pada takut pada Allah. Karena hanya dengan taqwa inilah, pembunuhan mahasiswa tidak terjadi, korupsi akan lenyap, pembantaian mahasiswa seperti di Virginia Tech tidak berulang. Apalagi hanya di IPDN. Insya Allah.
Damanhuri Khazin
Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al hakim (STAIL) Surabaya
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
10:29
|
Link ke posting ini
Label: TanPas
TEKHNIK MEMBACA
1) Membaca sebagai Proses Aktif Mencari Makna
Membaca merupakan kegiatan bernalar. Membaca merupakan bentuk dari kegiatan berpikir. Oleh karena itu, ketika seseorang mengajari anak untuk membaca, berarti dia membantu anak untuk menggunakan penalarannya dalam menghadapi suatu bacaan. Salah satu perwujudan membaca sebagai kegiatan bernalar adalah inferensi (proses menyusun hubungan logis atau menyempurnakan informasi berdasarkan ingatan dan pengalaman seseorang). Inferensi merupakan kegiatan menjadikan kata-kata bermakna, menghubung-hubungkan proposisi dan kalimat, dan mengisi potongan-potongan informasi yang hilang. Dalam menyusun inferensi, pembaca harus menginferensikan suatu kata dalam konteksnya. Di samping itu, pembaca juga harus meletakkan ke dalam kerangka yang lebih besar atas pemamahaman kalimat dan teks secara keseluruhannya.
2) Membaca sebagai Proses Konstruktif
Membaca juga merupakan kegiatan menghubungkan gagasan-gagasan itu dengan latar belakang pengetahuan yang dimiliki pembaca. Setelah pembaca mendapatkan makna dari bacaan, maka dia akan mengkontruksi sebuah pemahaman baru dalam dirinya, bisa dengan asosiasi atau asimilasi.
3) Membaca sebagai Proses Penerapan Beragam Pengetahuan
Untuk memperoleh pemahaman yang tepat tentang suatu bacaan, pembaca perlu menggunakan pengetahuannya yang selama ini dimiliki, di samping pengetahuan tentang bacaan yang sedang dibacanya. Tentu saja, di samping pengetahuan tersebut, pembaca harus menerapkan dan memahami pengetahuan yang terdapat dalam bacaan yang sedang dibacanya. Bacaannya harus dianalisis dalam berbagai tingkatan, mulai dari huruf-hurufnya sampai dengan keseluruhannya maknanya. Dengan kata lain, pembaca itu sedang menerapkan pengetahuannya, dari pengalaman hidupnya dan dari bacaan sebelumnya, ketika dia melakukan aktifitas membaca.
4) Membaca sebagai Proses Strategis
Pembaca yang efektif memiliki dan mampu menentukan tujuan membaca dengan benar. Tujuan membaca sangat menentukan proses dan cara membaca, sekalipun jenis bacaan yang dibacanya sama tapi dengan tujuan yang berbeda maka hasil dari membacanya juga berbeda. Proses dan cara membaca cerita (misalnya novel) yang bertujuan untuk memperoleh nilai-nilai bacaan dengan yang bertujuan memperoleh hiburan. Pembaca pertama melakukannya dengan menganalisis dan mengorganisasikan unsur-unsur yang memuat nilai-nilai bacaan, sedangkan pembaca kedua melakukannya dengan memfokuskan unsur-unsur yang menarik, yang baru, dan yang menimbulkan “teka-teki” untuk memancing bekerjanya “rasa ingin” pembaca.
Berdasarkan pemikiran bahwa membaca merupakan proses mengkonstruksi makna bacaan, itu berarti bahwa pembaca memahami bacaan yang lebih rumit secara bertahap. Dari waktu ke waktu, mereka mengembangkan dan memperbaiki pemahamannya tentang hakikat bacaan serta meningkatkan kesadarannya akan adanya struktur dalam bacaan tersebut.
Student’s Dormitory, 12 april 2007.
Damanhuri khazin R.
(kampus santri mahasiswa Islamic College of eL-Ha)
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
10:22
|
Link ke posting ini
Label: TIP_TIP dan KIAT
TEKNIK WAWANCARA
Pertama-tama tanyakan pada diri Anda, apa kegunaan dari wawancara karena akan menentukan bentuk pertanyaan?
Apakah Anda mencari informasi yang luas, pribadi dan profesional dari narasumber?
Apakah Anda mencari informasi mengenai topik tertentu dari narasumber?
Apakah Anda mencari reaksi atas sebuah berita yang sedang hangat?
Apakah Anda bermaksud membongkar lebih banyak fakta tentang sebuah berita kontroversial yang melibatkan narasumber?
Gaya wawancara
Luas, pribadi, santai, tidak konfrontatif
Mencari informasi yang sangat spesifik, siapa, apa, mengapa, kapan, di mana, atau memilih sudut pandang yang spesifik.
Wawancara ‘menodong’ (the doorstop interview) – sedikit pertanyaan dan informasi yang didapat – hati-hati dengan pertanyaan yang Anda inginkan untuk narasumber. Jangan risaukan hal-hal mendasar seperti siapa, apa, mengapa, kapan, di mana bila Anda sudah tahu jawabannya.
Wawancara rumit dan sulit, sering digambarkan sebagai wawancara yang bersifat merugikan. Tidak dianjurkan untuk dilakukan oleh jurnalis yang tidak berpengalaman, membutuhkan pengetahuan detil mengenai topik yang dibahas. Bisa juga disusun sebagai wawancara yang tidak terlalu agresif, namun tetap menjaga agar narasumber tidak mempermainkan jawabannya.
Tips wawancara secara umum
Persiapan untuk wawancara dilakukan secara maksimal.
Jangan terlalu terpaku pada kerangka wawancara hingga Anda tidak mendengar dan bereaksi pada perkataan narasumber – DENGARKAN!
Jangan takut menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Jangan takut akan keheningan. Tunggu narasumber merespon.
Lawan sebisa mungkin diberi dorongan untuk mencatat di depan kamera atau alat perekam. Jangan membuat jemu narasumber sebelum Anda mulai. Obrolkan mengenai cuaca, atau apa saja di luar topik wawancara, hingga kamera/alat perekam mulai merekam
Coba susun pertanyaan-pertanyaan mengenai subyek yang sulit dan kontroversial sedemikian rupa sehingga narasumber harus memberikan jawaban ya atau tidak.
Kemudian bila narasumber terpaksa menjawab ya/tidak untuk semua pertanyaan Anda, kembali gunakan pertanyaan bagaimana, apa, mengapa, kapan, di mana
Posted by: Damanhuri
Written by drh. Haryono Madari
Bumi Madina Asri, Rabu 14 Maret 2007
Artikel ini sumbangan Asep Saifullah dari Pena Indonesia
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
10:20
|
Link ke posting ini
Label: TIP_TIP dan KIAT
TIPS BERGAUL
By Damanhuri Khazin Rahbini
Bergaul adalah sebuah keniscayaan bagi setiap manusia. Karena manusia sebagai social human membutuhkan instrument untuk melaksanakan tugasnya sebagai orang yang bersosialisasi dengan yang lain. Manusia dari keahlian dan keterampilannya, sangat beragam, oleh karena itu dalam berinteraksi dengan manusia yang lain, diperlukan cara yang beragam pula.
Di samping itu, manusia mempunyai watak dan sifat yang variatif. Seseorang itu adalah manusia. Seseorang yang tinggal di lingkungan yang mengenal dan mempraktekkan agama dengan baik sangat berbeda dengan seseorang yang tinggal bersama dengan gerombolan penjahat dan bajingan.
Di dunia ini yang ada hanya dua, itupun ada, berpasangan dengan lainnya. Dari sikap misalnya, ada baik buruk, dari bentuk, ada gemuk kurus, tinggi pendek, dari usia, tua muda. Dalam hal ini yang menjadi kajian adalah bagaimana cara kita bergaul dengan wartawan. Wartawan adalah seseorang yang berprofesi untuk mencari warta, berita, informasi, kabar dan yang semakna dengan itu.
Diantara tips yang akan penulis paparkan, ketika anda berjumpa, atau dijumpai, atau dikunjungi, dan anda dijadikan obyek oleh si wartawan untuk digali informasinya, antara lain sebagai berikut:
BERSIKAPLAH SOPAN DAN APA ADANYA
Anda tidak sedang berbicara dengan binatang. Tapi anda masih berbicara dengan manusia juga. Maka hargailah dia sebagai seorang manusia yang sama dengan anda. Bersikap ramah merupakan kunci pergaulan anda dengan sesama, balaslah pertanyaannya dengan pertanyaan, jika itu dibutuhkan. Tampakkkan bahwa anda adalah orang yang menyenangkan bagi semua orang. Lebih banyak mendengar lebih efektif dari pada benyak cakap, sia-sia.
TANYAKAN KEPADANYA APA TUJUAN DARI PEMBICARAAN ITU, DIGUNAKAN UNTUK APA?
Walaupun anda sedang berbicara dengan manusia juga. Tapi dia adalah seorang wartawan. Tanyakan dari media apa dia ditugaskan, karena hal ini akan memberikan gambaran kepada anda untuk sikap selanjutnya. Apa agamanya, dan apa hubungannya dengan anda, berhati-hati itu lebih baik ketika anda berbincang dengan seorang wartawan. Jika dia wartawan muslim, mungkin masih memungkinkan untuk anda layani keperluannya, walaupun wartawan muslim bukan jaminan keselamatan anda. Sadarilah bahwa anda sedang berbicara dengan orang yang akan memuat dan memberitakan anda ke publik.
JANGANLAH TERLALU MERENDAH DAN JANGAN JUGA TERLALU MENINGGI
Anda, apapun profesinya tetaplah berada dalam kodrat kemanusian. Jangan terlalu menunduk, sehingga anda berat untuk mendongakkan kepala dan jangan juga mendongak ke langit, sehingga anda malu untuk menunduk ketika anda sudah tidak pantas untuk mendongakkan kepala. Karena manusia itu, kadang salah dan kadang benar, karena iman itu kadang naik dan kadang turun. Anda harus memaksa iman anda stagnan dalam ketinggian yang tanpa puncak, tapi jangan memaksa kondisi stagnan, karena kita pasti mengalami perubahan. Pahami?
BERBICARALAH SEPERLUNYA
Berbicara seperlunya, itu cara yang baik untuk berinteraksi dengannya. Jawablah pertanyaannya seperlunya, tanpa mengurangi hormat anda padanya. Karena dengan begitu anda tidak memancing dia untuk menanyai lebih dalam tentang sesuatu yang unik dari anda. Hal ini, juga meminimalisir pancingannya berhasil bagi anda.
Surabaya, 14 April 2007.
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
10:16
|
Link ke posting ini
Label: TIP_TIP dan KIAT
24 Mei, 2007
TEKHNIK MENULIS: ENAM LANGKAH,
Enam langkah tersebut adalah:1 PencelupanAnda harus masuk ke dalam subjek anda, hampir pada keseluruhan poin. Tidak membutuhkan penulisan apapun, tetapi lebih banyak membaca, juga bertanya pada sumber yang tahu. Seorang penulis harus selalu menjadi seorang pengamat yang jeli dan cermat, harus selalu melihat, tidak peduli apa tingkat partisipasinya dalam situasi tersebut. Mark Twain, mengatakan, “Pertama dapatkan fakta-fakta anda, kemudian anda dapat mengubahnya sebanyak yang anda inginkan.” Instrumennya adalah lima ‘W’ satu ‘H’ ditambah pertanyaan, Anehkah?.2 Catatan-catatanAnda harus memandu diri untuk mencatat hal-hal penting dan terpenting dari data-data yang telah anda dapat. Pilihlah yang terbaik dari semua data dan informasi kasar yang anda temukan. Sudah waktunya anda mulai menulis pikiran acak, frase, pertanyaan, bayangan, dan ide lain yang berhubungan dengan subjek. Yang akan berfungsi sebagai dasar untuk artikel, buku, makalah, pidato, dan lain sebagainya.3 Tinjauan ulang dan berpikirIni adalah langkah balik. Anda meninjau ulang catatan-catatan yang sudah anda pilih, dan yang tidak anda pilih. Anda lihat kembali, pikirkan kembali apa yang telah anda pelajari dan amati. Dan yang terpenting, pikirkan ulang visi asli anda untuk produk yang akan anda tulis. Dan selanjutnya anda sudah siap melakukan penulisan yang sebenarnya.4 Daftar isiPada tahap ini atur kekacauan. Susun kerja anda. Buat garis besar apa yang akan tulis, bahkan jika bisa sampai sub-sub yang paling kecil. Lihat dengan seksama bagian perbagian; pembukaan, tengah, dan akhir. Lalu buat jadwal kerja anda!. “Jangan bingung, organisasikanlah!” Joe Hill said.5 Bab demi babInilah saatnya menulis! Bab dami bab. Gabungkanlah bahan-bahan itu sesuai garis yang telah anda buat. Perkaya dengan bahan lain milik anda. Tulis dengan penuh percaya diri. Tulis dengan kekuatan jiwa. Tulis dengan emosi!6 Tinjauan ulang dan perbaikanSekarang, setelah tulisan anda selesai. Anda jangan langsung puas. Teliti kembali dan tulis ulang dengan perbaikan, revisi dan pengembangan. Ini saatnya anda mengedit naskah anda. Inilah tekhnik menulis yang baik, sebagaimana ditulis oleh penulis besar Stepehen J. Spignesi. Hoosier Kim Hubbard said,”tidak ada kegagalan kecuali tidak lagi mencoba.”
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
20:40
|
Link ke posting ini
Label: TIP_TIP dan KIAT
EMPAT ( 4 ) PILAR PROSES PENDIDIKAN
Menghadapi abad ke-21, UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty first Century" yang dipimpin oleh Jacques Delors merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran
, yaitu:
Learning to know (Belajar untuk menguasai..pengetahuan)
Learning to do (Belajar untuk menguasai keterampilan )
Learning to be (Belajar untuk mengembangkan diri)
Learning to live together (Belajar untuk hidup .bermasyarakat)
Learning to know
Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha untuk mencari agar mengetahui informasi yang dibutuhkan dan berguna bagi kehidupan. Belajar untuk mengetahui (learning to know) dalam prosesnya tidak sekedar mengetahui apa yang bermakna tetapi juga sekaligus mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan.
Guna merealisir learning to know, pendidik seyogyanya tidak hanya berfungsi sebagai sumber informasi melainkan juga fasilitator. Di samping itu pendidik dituntut dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan peserta didik dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu
Learning to do
Pendidikan merupakan proses belajar untuk melakukan sesuatu (learning to do). Proses belajar menghasilkan perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi, serta pemilihan dan penerimaan nilai. Pendidikan membekali manusia tidak sekedar untuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan.
Learning to do bisa berjalan jika lembaga pendidikan memfasilitasi peserta didik untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Walaupun bakat dan minat anak banyak dipengaruhi unsur keturunan, namun tumbuh berkembangnya tergantung pada lingkungannya. Dewasa ini keterampilan bisa digunakan menopang kehidupan seseorang, bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.
Learning to be
Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses belajar menjadi diri sendiri (learning to be). Menjadi diri sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma & kaidah yang berlaku di masyarakat, serta belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya adalah proses pencapaian aktualisasi diri.
Pengembangan diri secara maksimal (learning to be) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak & kondisi lingkungan nya. Kemampuan diri yang terbentuk di sekolah secara maksimal memungkinkan anak untuk mengembangkan diri pada tingkat yang lebih tinggi.
Learning to live together
Dengan kemampuan yang dimiliki, sebagai hasil dari proses pendidikan, dapat dijadikan sebagai bekal untuk mampu berperan dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya. Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi di masyarakat (learning to live together).
Salah satu fungsi sekolah adalah tempat bersosialisasi, artinya mempersiapkan siswa untuk dapat hidup bermasyarakat. Situasi bermasyarakat hendaknya dikondisikan di lingkungan sekolah. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima, perlu ditumbuhkembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya "learning to live together".
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
20:37
|
Link ke posting ini
PENULISAN CERITA PENDEK (CERPEN)
Apapun definisinya, cerpen harus memenuhi kriteria ilmiah secara teoritis dan secara praktis dapat diaplikasikan, antara lain;Pertama, cerita pendek harus pendek. Seberapa pendeknya? Sebatas rampung baca sekali duduk menunggu kereta api. Ia juga harus memberi kesan secara terus-menerus hingga kalimat terakhir. Dengan artian cerpen harus ketat, tidak mengobral detil, dialog hanya diperlukan untuk menampakkan watak, atau menjalankan cerita atau menampilkan problem.Kedua, cerpen mengalir dalam arus untuk menciptakan efek tunggal dan unik. Ketunggalan pikiran dan aksi bisa dikembangkan lewat satu garis dari awal sampai akhir. Dalam cerpen tidak dimungkinkan terjadi aneka peristiwa digresi.Ketiga, cerpen harus ketat dan padat. Setiap detil harus mengarus pada satu efek saja. Dan berakhir pada kesan tunggal. Ekonomisasi kata dan kalimat merupakan salah satu ketrampilan yang dituntut bagi seorang cerpenis.Keempat, cerpen harus mampu meyakinkan pembacanya bahwa ceritanya benar-benar terjadi, bukan suatu bikinan, rekaan. Itulah sebabnya dibutuhkan suatu keterampilan khusus, adanya konsistensi dari sikap dan gerak tokoh, bahwa mereka benar-benar hidup, sebagaimana manusia yang hidup.Kelimat, cerpen harus menimbulkan kesan yang selesai, tidak lagi mengusik dan menggoda, karena ceritanya seperti masih berlanjut. Kesan selesai itu benar-benar meyakinkan pembaca, bahwa cerita itu telah tamat, sampai titik akhirnya, tidak ada jalan lain lagi, cerita benar-benar rampung di situ. Karakateristik cerpenKarakteristik utama cerpen adalah pendek dan singkat. Singkat, maksudnya, tokoh-tokoh yang memegang peranan tidak banyak jumlahnya, bisa jadi hanya seorang, dan paling banyak empat orang. Itu pun tidak seluruh kepribadian tokoh, atau tokoh-tokoh diungkapkan di dalam cerita.Fokus atau titik perhatian di dalam cerita hanya satu. Konfliknya hanya satu, dan ketika cerita itu dimulai, konflik itu sudah hadir di situ. Pendek, artinya, kita tidak menemukan adanya perkembangan cerita. Tidak ada cabang-cabang cerita. Tidak ada kelebatan pemikiran tokoh-tokohnya yang melebar ke pelbagai hal dan masalah. Dan karena jumlah tokohnya terbatas, peristiwanya singkat, waktu berlangsungnya tidak begitu lama, kata-kata yang dipakai harus hemat, tepat dan padat, maka tempat kejadiannya pun juga terbatas, berkisar 1-3 tempat saja. Unsur-unsur dalam cerpen1. TemaGagasan inti, ya itu tema. Dia merupakan pondasi sebuah bangunan. Tidak mungkin mendirikan bangunan tanpa pondasi. Artinya, tema adalah sebuah ide pokok, pikiran utama sebuah cerpen; pesan atau amanat. Dasar tolak untuk membentuk rangkaian cerita; dasar tolak untuk bercerita.Ide pokok adalah sesuatu yang hendak disampaikan pengarang kepada para pembacanya. Sesuatu itu biasanya adalah masalah kehidupan, komentar pengarang mengenai kehidupan atau pandangan hidup pengarang dalam menghadapi kehidupan luas ini. Pengarang tidak dituntut menjelaskan temanya secara gamblang dan final, tidak ia bisa saja hanya menyampaikan sebuah masalah kehidupan dan akhirnya terserah pembaca untuk menyikapi dan menyelesaikannya.Diantara tema itu antara lain; (1) Kejahatan pada akhirnya akan dikalahkan oleh kebaikan; (2) Persahabatan sejati adalah setia dalam suka dan duka; (3) Cinta adalah energi kehidupan, karena cinta itu dapat mengatasi segala kesulitan. Dan lain sebagainya. 2. Alur atau PlotAlur adalah rangkaian peristiwa yang menggerakkan cerita untuk mencapai efek tertentu. Dalam pengertian umum, plot adalah suatu permufakatan atau rancangan rahasia guna mencapai tujuan terntentu. Rancangan tujuan itu bukan plot, akan tetapi semua aktivitas untuk mencapai yang diinginkan itulah plot.Menurut Arswendo Atmowiloto, plot adalah sebab-akibat yang membuat cerita berjalan dengan irama atau gaya dalam menghadirkan ide dasar. Semua peristiwa yang terjadi di dalam cerpen harus berdasarkan sebab akibat, sehingga plot jelas tidak mengacu pada jalan cerita, tetapi menghubungkan semua peristiwa. Jakob Sumardjo dalam Seluk-beluk Cerita Pendek menjelaskan tentang plot dengan mengatakan, “contoh populer menerangkan arti plot adalah begini: Raja mati. Itu disebut jalan cerita. Tetapi raja mati karena sakit hati, adalah plot.”Dalam cerpen biasanya digunakan plot ketat, bila salah satu kejadian ditiadakan jalan cerita menjadi terganggu dan bisa jadi, tidak bisa dipahami. Adapun jenis plot antara lain: Plot keras, jika akhir cerita meledak keras di luar dugaan pembaca. Plot lembut, jika akhir cerita berupa bisikan, tidak mengejutkan pembaca, namun tetap disampaikan dengan mengesan sehingga seperti terus terngiang di telinga pembaca. Plot lembut-meledak, atau plot meledak-lembut adalah campuran plot keras dan lembut.Adapun jika dilihat dari sifatnya, maka ada cerpen dengan plot terbuka; jika akhir cerita merangsang pembaca untuk mengembangkan jalan cerita di samping masalah dasar persoalan, plot tertutup; jika akhir cerita tidak merangsang pembaca untuk meneruskan jalan cerita, dan campuran keduanya.3. PenokohanYaitu penciptaan citra tokoh dalam cerita. Tokoh harus tampak hidup dan nyata hingga pembaca merasakan kehadirannya. Berhasil tidaknya sebuah cerpen ditentukan oleh berhasil tidaknya menciptakan citra, watak dan karakter tokoh tersebut. Penokohan bisa dikatakan sebagai mata air kekuatan sebuah cerpen.Pada dasarnya sifat tokoh ada dua macam. Pertama, sifat lahir (rupa, bentuk). Kedua, sifat batin (watak dan karakter). Sifat tokoh dalam cerita bisa diungkapkan dengan berbagai cara, diantaranya melalui: Tindakan, ucapan dan pikirannya Tempat tokoh tersebut berada Benda-benda di sekitar tokoh Kesan tokoh lain terhadap dirinya Dekripsi langsung secara naratif oleh pengarang. 4. Latar atau SettingLatar adalah keterangan mengenai waktu, ruang dan suasana dalam suatu cerita. Pada dasarnya, latar mutlak dibutuhkan untuk menggarap tema atau plot, karena untuk menghasilkan cerita yang gempal, padat dan berkualitas latar harus bersatu dengan tema dan plot. Latar bisa dipindahkan ke mana saja, berarti latar tidak integral dengan tema dan plot. 5. Sudut pandangan tokohSudut pandangan tokoh adalah visi pengarang yang dijelmakan ke dalam pandangan tokoh-tokoh bercerita. Jadi sudut pandangan ini sangat erat dengan tekhnik bercerita.Diantara sudut pandangan tokoh ini, antara lain: Sudut pandangan orang pertama. Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”-nya. Sudut pandangan orang ketiga. Yang dipakai adalah “ia” atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “aisha” dalam; “aisha” dalam Ayat-ayat Cinta. Sudut pandangan campuran, pengarang membaurkan pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan. Sudut pandangan yang berkuasa. Tekhnik ini menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Tekhnik ini membuat cerita sangat informatif. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui. Anatomi cerpenAnatomi cerpen bisa juga disebut struktur cerita. Cerpen setidaknya memiliki anatomi sebagai berikut:1. Situasi (pengarang membuka cerita)2. Peristiwa-peristiwa terjadi3. Peristiwa-peristiwa memuncak4. Klimaks5. Anti KlimaksKomposisi cerpen menurut H.B. Jassin adalah; perkenalan, pertikaian dan penyelesaian. Cerpen yang baik adalah yang memiliki anatomi dan struktur cerita yang seimbang. Agar sebuah cerpen memiliki daya pikatAda beberapa trik-trik yang dapat dipertimbangkan agar cerpen anda memiliki daya tarik yang memikat, antara lain:o Carilah ide cerita yang menarik dan tidak klise.o Buatlah lead paragraf awal dan kalimat penutup cerita yang semenarik mungkin. Alinea awal dan alinea akhir sangat menentukan keberhasilan sebuah cerpan. Alinea awal berfungsi menggiring pembaca untuk menelusuri dan masuk dalam cerita yang dibacanya. Sedangkan kalimat akhir adalah kunci kesan yang disampaikan pengarang. Kunci kesan ini sangat penting, karena cerpen yang memberikan kesan yang mendalam di hati pembacanya, akan selalu dikenang.o Buat judul cerita yang bagus dan menarik. Judul yang baik harus menggugah rasa ingin tahu pembacanya. Menurut M. Fauzil Adhim, hal yang perlu diperhatikan dalam membuat judul; Pertama, judul sebaiknya singkat dan mudah diingat. Kedua, judul harus mudah diucapkan. Dan Ketiga, kuat maknanya.o Perhatikan tekhnik penceritaan. Tekhnik yang digunakan pengarang menyangkut penokohan, penyusunan konflik, pembangunan tegangan dan penyajian cerita secara utuh. Diantara tekhnik penceritaan adalah; in medias res (memulai cerita dari tengah) atau flashback (sorot balik, penyelaan kronologis).o Buatlah suspense, kejutan-kejutan yang muncul tiba-tiba (bedakan dengan faktor kebetulan), jangan terjebak pada cerita yang bertele-tele dan mudah ditebak.o Cerpen harus mengandung kebenaran, keterharuan dan keindahan.o Ingatlah setiap pengarang mempunyai gaya khas. Pakailah gaya sendiri, jangan meniru. Gunakan bahasa yang komunikatif. Hindari gaya berlebihan dan kata-kata yang terlalu muluk.o Perhatikan setiap tanda baca dan aturan berbahasa yang baik, tetapi tidak kaku. Jangan bosan untuk membaca dan mengedit ulang cerpen yang sudah anda selesaikan.Akhirnya sebagai penutup, agar cerpen kamu berbobot, saya ingatkan pesan Edgar Allan Poe, Dalam cerpen tak boleh ada satu kata pun yang terbuang percuma, harus punya fungsi, tujuan dalam komposisi keseluruhan. Selamat menulis cerpen.Sebagai pamungkas pembahasan ini, saya kemukakan sepuluh langkah yang paling diyakini oleh Ustadz Habiburrahman el Shirazy, adalah menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, menulis, dan menulis.Oleh Damanhuri Khazin Rahbini Ulasan Ustadz Habiburrahman el Shirazy dalam buku Fenomena Ayat-Ayat Cinta.
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
20:32
|
Link ke posting ini
Label: TIP_TIP dan KIAT
KRITERIA GURU MENURUT UU GURU
KRITERIA GURU MENURUT UU GURU (UU RI NO. 14 TH. 2005)
Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional
Kualifikasi akademik guru diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana (S1) atau diploma empat (D4).
Kompetensi guru sebagai agen pembelajaran meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik.
Kompetensi kepribadian adalah kondisi guru sebagai individu yang memiliki kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik.
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan bidang studi/mata pelajaran yang akan ditransformasikan kepada peserta didik secara luas dan mendalam.
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar
Sertifikat profesi guru sebagaimana dimaksud diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Setiap orang yang memiliki sertifikat pendidik mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu.
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
20:28
|
Link ke posting ini
Label: TanPas
TIP MENULIS LATAR BELAKANG
Padahal Latar Belakang justru bagian yang penting sebagai titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai apa penyebab munculnya Tulisan kita. Dari Latar Belakang lah dapat kita perlihatkan sebuah "milestone" kepada pembaca. Latar Belakang lah yang memberikan penjelasan rasional mengenai penyebab mengapa Tulisan kita muncul. Berikut ini saya coba uraikan beberapa hal agar dapat membantu menyusun "Latar Belakang". Latar belakang terdiri dari tiga unsur, yaitu:1. Kondisi ideal2. Kondisi saat ini3. Solusi / suatu hal untuk mengatasi gap antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal1. Kondisi Ideal Kondisi ideal menggambarkan sebuah keadaan yang menjadi tujuan, dicita-citakan, atau impian. Dalam sebuah organisasi, kondisi ideal biasanya diuraikan dalam sebuah visi misi. Kondisi ideal juga bisa berarti suatu kondisi jangka pendek / jangka menengah / jangka panjang yang ingin dicapai, khususnya yang berkaitan dengan Tulisan yang akan Anda rumuskan. Ibaratnya perjalanan, kondisi ideal ini adalah kota tujuan yang ingin dicapai. 2. Kondisi Saat IniKondisi saat ini menggambarkan keadaan yang secara realita benar-benar terjadi pada saat ini. Uraikan kondisi realita tersebut, terutama yang berkaitan dengan tulisan yang sedang dirumuskan. Dan nantinya akan dikaitkan dengan kondisi ideal di atas, akan ditarik benang merahnya. Ibaratnya perjalanan, kondisi saat ini adalah ungkapan tentang: sudah sampai mana perjalanan kita, apakah sudah sampai 10 KM, sudah sampai kota X, atau bahkan belum jalan sama sekali.3. Solusi Pada bagian ini, barulah diuraikan hal-hal yang akan dilakukan/ditulis/diteliti/dll dalam rangka mengatasi gap antara kondisi saat ini dengan kondisi ideal yang ingin dicapai. Ibaratnya perjalanan, solusi ini adalah usaha yang akan kita lakukan untuk menuju kota tujuan dari posisi perjalanan kita saat ini. Solusi inilah yang akan menjadi inti dari Tulisan kita nanti. Setelah semua diuraikan dalam Latar Belakang, barulah sub-bab berikutnya. Misalnya sub-bab permasalahan yang menggambarkan masalah apa saja yang mungkin akan dihadapi dalam melaksanakan solusi/Tulisan yang akan dikerjakan. Lalu subbab-subbbab lainnya, misalnya Tujuan, Sasaran, dll. Oke, selamat menulis.www.hdn.or.id
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
20:25
|
Link ke posting ini
Label: TIP_TIP dan KIAT
BAB SATU
Pembangunan pada dasarnya ditujukan pada pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) agar mampu mengelola sumber daya yang relevan dengan aspek kehidupan manusia. Pendidikan memegang peranan kunci dalam penyediaan SDM yang berkualitas, bahkan pendidikan sangat menentukan berhasil atau gagalnya pembangunan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan bermutu menghasilkan SDM bermutu dan SDM yang bermutu akan membantu keberhasilan pembangunan. Oleh karena itu peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan formal dan nonformal perlu mendapat prioritas. Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang didalamnya ada proses manajemen untuk mencapai tujuan tertentu. Manajemen sekolah harus berusaha menciptakan suasana yang harmonis dan penuh kasih sayang ketika berhubungan dengan wali murid, sekalipun mereka berbeda-beda tingkatannya sehingga berhasil mengarahkan mereka. Hal ini bisa diupayakan dengan cara mewujudkan interaksi sosial yang baik. Hubungan antara manajemen sekolah dengan masyarakat harus tumbuh di atas prinsip keinginan bersama untuk mencapai tujuan proses pendidikan. Bila interaksi sosial antara manajemen sekolah dengan masyarakat terwujud, maka sekolah mampu menghadapi berbagai kesulitannya. Khususnya di bidang keuangan. Dalam memenuhi tuntutan masyarakat terhadap (out put) keluaran yang dihasilkan, sekolah harus memberikan pelayanan dan pengelolaan yang baik dan benar. Dalam pengelolaan ini, partisipasi masyarakat mutlak dibutuhkan oleh sekolah. Partisipasi itu mengacu kepada adanya keikutsertaan masyarakat secara nyata dalam kegiatan di sekolah. Keikutsertaan masyarakat bisa langsung dan bisa juga dengan tidak langsung. Partisipasi langsung adalah masyarakat bersentuhan langsung dengan sekolah dalam memberikan partisipasinya, misalnya menjadi tenaga pengajar dengan suka rela, bersedia menjadi pelatih untuk meningkatkan kualitas guru.Tingginya partisipasi masyarakat dapat dijadikan tolak ukur keberhasilan kebijakan sekolah. Keberadaan sekolah pada lingkungannya harus memberikan keuntungan maupun keunggulan sehingga dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Apresiasi masyarakat terhadap pendidikan sampai saat ini masih relatif tinggi. Akan tetapi, hal ini tidak diimbangi dengan tingkat partisipasinya. Partisipasi mereka terhadap pengembangan sekolah/madrasah pada umumnya masih bersifat terbatas dan bahkan cenderung pasif, sehingga diperlukan pengelolan yang optimal untuk menggalang partisipasi masyarakat tersebut. Sekolah itu berkembang karena adanya partisipasi orang tua. Partisipasi itu terbangun karena ada koordinasi antara sekolah dengan orang tua. Partisipasi masyarakat merupakan faktor yang menentukan keberlangsungan program pendidikan. Sekolah merupakan suatu lembaga yang memberikan pelayanan pendidikan terhadap anak didik. Sekolah juga sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan untuk menghasilkan output yang berkualitas. Tujuan partisipasi orang tua, wali murid terhadap sekolah menurut Uemura (1999) dalam tulisannya Community Participation In Education adalah untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan sehingga siswa bisa belajar lebih baik dan siap menghadapi perubahan zaman. Partisipasi masyarakat terhadap sekolah bisa berupa partisipasi keahlian, berupa pemikiran, berupa dana dan berupa tenaga. SD Islam AL AZHAR 11 Surabaya merupakan sekolah dasar Islam yang memadukan kurikulum keislaman dan kurikulum nasional. SD Islam AL AZHAR 11 Surabaya merupakan sekolah yang cukup maju dan berkualitas, hal ini bisa dilihat dari banyaknya peminat sekolah ini yang menyekolahkan anaknya di SD Islam Al Azhar 11 Surabaya. Dan juga dari prestasi sekolah yang diperoleh selama ini. SD Islam AL AZHAR 11 Surabaya dalam perkembangannya menjadi sekolah yang berkualitas, tentu karena adanya partisipasi masyarakat yang besar terhadap sekolah ini. Sekolah ini berlokasi di pinggir jalan raya, tepatnya di Jalan Mulyosari Surabaya, dan dikelilingi oleh pertokoan dan instansi-instansi swasta dan pemerintah. Namun, dengan kondisi yang demikian tidak membuat sekolah ini tidak memiliki nama dan tempat tersendiri di masyarakatnya. Hal ini terlihat dari banyaknya kegiatan yang dilakukan sekolah, walaupun tempatnya di Graha ITS misalnya, tetap berjalan dengan sukses dan optimal. menurut peneliti yang telah melakukan observasi langsung, kesuksesan ini disebabkan partisipasi masyarakat terhadap sekolah cukup tingggi dan ternyata yang berpartisipasi terhadap sekolah ini bukan hanya dari orang tua siswa tetapi partisipasi itu juga berasal dari masyarakat umum, seperti kalangan mahasiswa, pejabat pemkot Surabaya. Karena fenomena seperti inilah, maka peneliti tertarik untuk mengangkat dalam penelitian dengan judul PARTISIPASI MASYARAKAT TERHADAP PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DI SD AL AZHAR 11 SURABAYA. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa saja bentuk partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di SD Islam Al Azhar 11 Surabaya? 2. Mengapa masyarakat memiliki partisipasi terhadap penyelenggaraan pendidikan di SD Islam Al Azhar 11 Surabaya? C. TUJUAN PENELITIAN Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mendeskripsikan bentuk partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di SD Islam Al Azhar 11 Surabaya. 2. Untuk mengetahui alasan masyarakat berpartisipasi terhadap penyelenggaraan pendidikan di SD Islam Al Azhar 11 Surabaya dalam membangun partisipasi masyarakat. D. MANFAAT PENELITIAN Manfaat penelitian ini meliputi: 1. Sebagai sumbangsih terhadap khazanah keilmuan bagi masyarakat yang berkepentingan dengan dunia pendidikan pada khususnya dan masyarakat secara umum. 2. Secara teoritis hasil penelitian ini bermanfaat terhadap mata kuliah manajemen humas pendidikan. 3. Bagi sekolah yang diteliti hasil penelitian ini bermanfaat sebagai informasi dan referensi dalam pelaksanaan manajemen sekolah. 4. Sebagai aplikasi nyata bagi peneliti dalam memahamami bentuk partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. 5. Sebagai sumbangsih kepustakaan bagi jurusan Tarbiyah STAI Luqman al Hakim Surabaya, praktisi pendidikan dan masyarakat umum. E. DEFINISI OPERASIONAL Untuk mempermudah pemahaman dan menghindari kesalahan penafsiran dalam penelitian ini, maka ditulis definisi operasional sebagai berikut: 1) Partisipasi masyarakat Dalam Kamus populer, partisipasi adalah pengambilan bagian (didalamnya); keikutsertaan; penggabungan diri (menjadi peserta). Masyarakat adalah kelompok warga negara Indonesia nonpemerintah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang pendidikan. Partisipasi masyarakat di sini saya maksudkan partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan pendidikan di SD Islam Al Azhar 11 Surabaya. 2) Penyelenggaraan pendidikan Dalam RUU Penyelenggaraan pendidikan disebutkan bahwa “Penyelenggaraan pendidikan adalah kegiatan pelaksanaan komponen-komponen sistem pendidikan pada satuan / program pendidikan pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.” 3) SD AL AZHAR 11 Surabaya SD AL AZHAR 11 Surabaya adalah sekolah Dasar yang berada dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Al Azhar yang berlokasi di jalan Mulyosari Surabaya. SD Islam AL AZHAR 11 Surabaya merupakan sekolah dasar Islam yang memadukan kurikulum keislaman dan kurikulum nasional. F. RUANG LINGKUP PENELITIAN 1) Komponen variabel Penelitian ini mempunyai dua variabel. Variabel pertama adalah bentuk partisipasi orang tua dan variabel kedua adalah penyelenggaraan pendidikan. Bentuk partisipasi orang tua di sini berupa pemikiran, berupa partisipasi keterampilan dan kemahiran, berupa tenaga dan finansial. Penyelenggaraan pendidikan yang dimaksudkan di sini adalah pengadaan sarana prasarana sekolah dan alat peraga pembelajaran. 2) Waktu penelitian dan lokasi penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tahun 2007 dan berlokasi di Sekolah Dasar Islam Al Azhar 11 Surabaya dengan subyek orang tua murid dan wali murid di wilayah Surabaya Timur, yang berpartisipasi terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. G. METODE PENELITIAN 1. Jenis penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Metode kualitatif digunakan karena menyesuaikan metode kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan-ganda. Hal ini dilakukan, menurut Lincoln dan Guba (1985:39), karena ontologi alamiah menghendaki adanya kenyataan- kenyataan sebagai keutuhan yang tidak dapat dipahami jika dipisahkan dari konteksnya. Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa ada perlakuan terhadap obyek yang diteliti. Fenomenologi merupakan pandangan berpikir yang menekankan pada fokus kepada pengalaman-pengalaman subjektif manusia dan interpretasi-interpretasi dunia. Fenomenologi diartikan sebagai pengalaman subjektif atau pengalaman fenomenologikal dan suatu studi tentang kesadaran dari perspektif pokok dari seseorang. Secara lebih khusus, istilah ini mengacu pada penelitian terdisiplin tentang kesadaran dari perspektif pertama seseorang. Dalam skripsi ini dipilih metode penelitian kualitatif karena obyek penelitiannya tidak mengalami perlakuan tetapi melakukan penelitian pada latar alamiah atau pada keutuhan obyek penelitian tersebut. 2. Sumber dan jenis data a. Data Utama Jenis data penelitian ini adalah data kualitatif. Dalam hal ini yang menjadi data utama adalah bentuk-bentuk partisipasi orang tua. Bentuk-bentuk partisipasi berupa pemikiran, berupa tenaga, berupa finansial yang diperoleh dari wali murid. b. Data pendukung Data pendukung dalam penelitian ini adalah situasi dan kondisi yang menjadikan orang tua berpartisipasi terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Data kualitatif ini diperoleh dari kepala sekolah dan guru-guru. 3. Obyek penelitian Objek penelitian ini adalah bentuk partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan pendidikan di SD Islam Al Azhar 11 Surabaya. 4. Subyek penelitian Subyek penelitian dalam skripsi ini adalah orang tua siswa. Dalam menentukan subyek penelitian digunakan tekhnik purposive sampling, peneliti menentukan subyek didasarkan adanya tujuan tertentu, pertimbangannya karena keterbatasan waktu, tenaga, dan dana yang dimiliki peneliti. Hal ini juga berkaitan dengan ketepatan peneliti memilih sumber data sesuai dengan variabel yang diteliti, dalam hal ini adalah bentuk partisipasi orang tua terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Dalam menggali data digunakan tekhnik snow ball sampling, yaitu mengejar informasi dan data pada subyek yang membuat peneliti tertarik, dalam hal ini adalah orang tua murid. 5. Prosedur penelitian a. Tahap Persiapan Pada tahapan ini, peneliti melakukan observasi dan wawancara secara menyeluruh untuk memperoleh informasi dari informan dari tangan pertama, kemudian terfokus pada bentuk partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan pendidikan di sekolah. b. Tahap Pelaksanaan Dalam tahapan ini, peneliti mengumpulkan data dengan jalan observasi lapangan, wawancara, dan dokumentasi. c. Tahap Penyelesaian Tahapan ini adalah tahapan yang terakhir. Peneliti mengorganisasikan hasil dari pengumpulan data dan memberikan analisa terhadap data itu, dan selanjutnya menyimpulkan hasil penelitian. 6. Tekhnik pengumpulan data Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tekhnik-tekhnik pengumpulan data sebagai berikut: a. Observasi lapangan Observasi adalah metode memperoleh data dengan mengamati obyek dengan menggunakan seluruh alat indra, tentu dalam hal ini peneliti sebagai pengamat (observer). Observasi yang digunakan adalah observasi terstruktur yang sifatnya terbuka dengan latar alamiah. Observasi ini dimaksudkan para subyek dengan sukarela memberikan kesempatan kepada pengamat untuk mengamati peristiwa yang terjadi baik di sekolah maupun di masyarakat. Adapun yang diobservasi dalam skripsi ini adalah situasi dan kondisi yang menjadikan orang tua berpartisipasi terhadap sekolah. b. Wawancara (interview) Wawancara adalah tekhnik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara lisan oleh interviewer dan menghasilkan jawaban secara lisan dari informan. Dalam skripsi ini menggunakan jenis wawancara terbuka dengan pembicaraan informal karena akan membantu peneliti mendalami informasi secara lebih detail dan terstruktur tentang partisipasi masyarakat dan prinsip membangun partisipasi. Wawancara jenis ini lebih praktis bagi peneliti untuk dilakukan. Yang menjadi objek dari wawancara dalam skripsi ini adalah wali murid, kepala sekolah dan guru-guru. c. Dokumentasi Dokumentasi, dari asal katanya dokumen, yang artinya barang-barang tertulis. Dokumen ialah setiap bahan tertulis ataupun film yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang penyidik. Dokumentasi adalah metode mengumpulkan data dari dokumen-dokumen. Dokumen yang dibutuhkan dalam skripsi ini yaitu dokumen-dokumen tentang kondisi orang tua siswa yang meliputi; sosial budaya, ekonomi, pendidikan, dan kehidupan keber-agama-annya. Begitu juga dokumen tentang bentuk partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaraan program sekolah. 7. Instrumen pengumpulan data a. Peneliti Dalam penelitian dengan pendekatan kualitatif, faktor manusia merupakan faktor utama dalam pengumpulan data. Sebab peneliti terjun langsung dalam penelitian ini, sehingga peneliti merupakan instrumen utama dalam penelitian ini. b. Pedoman wawancara Pedoman wawancara merupakan instrumen pengumpul data yang berisi sejumlah pertanyaan yang diajukan kepada kepala sekolah dan wali murid yang menuntun dan mengarahkan peneliti untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan penelitian. c. Key informan Adalah orang yang mengatahui secara detail kondisi SD Islam Al Azhar 11 Surabaya dan bentuk partisipasi orang tua terhadap sekolah. Dalam hal ini adalah kepala sekolah dan wali murid. 8. Tekhnik analisis data Dalam menarik kesimpulan dari data yang dihasilkan, penelitian ini menggunakan tekhnik analisis data kualitatif dengan pendekatan induktif. Artinya peneliti berangkat dari fakta / informasi / data empiris untuk membangun teori. Upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Setelah data diperoleh, ada tahapan yang ditempuh dalam menganalisis data, antara lain: a. Peneliti membaca / mempelajari data yang diperoleh melalui obsevasi, wawancara, dan dokumentasi, menandai kata-kata kunci dan gagasan yang ada dalam data. b. Mereduksi data dengan jalan membuat abtraksi, yaitu usaha membuat rangkuman yang inti, proses, dan pernyataan-pernyataannya perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. c. Menyusun dalam satuan-satuan dan kategorisasi yang dilakukan sambil membuat koding. Satuan merupakan alat untuk menghaluskan data. d. Mengadakan pemeriksaan keabsahan data. H. SISTEMATIKA PEMBAHASAN BAB I Pendahuluan Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi operasional, ruang lingkup penelitian, metode penelitian dan sistematika pembahasan BAB II Kajian Pustaka Kajian pustaka terdiri dari bentuk-bentuk partisipasi masyarakat terhadap sekolah dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Bentuk partisipasi masyarakat (orang tua/wali murid) bisa berupa kemahiran, berupa tenaga, berupa pemikiran dan berupa finansial. Penyelenggaraan pendidikan terdiri dari sarana dan prasarana sekolah dan pembiayaan sekolah. BAB III Setting Penelitian Setting penelitian terdiri dari gambaran obyek. Yaitu gambaran SD Islam Al Azhar 11 Surabaya dan penyelenggaraan pendidikan di SD Islam Al Azhar 11 Surabaya. BAB IV Paparan Data Terdiri dari bentuk-bentuk partisipasi masyarakat terhadap penyelenggaran pendidikan di SD Islam Al Azhar 11 Surabaya BAB V Penutup Berisi kesimpulan dan saran-saran.
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
19:19
|
Link ke posting ini
Label: SKRIPSi
06 Mei, 2007
Muhimmah
Memang setiap orang punya hak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran. pendidikan tidak harus dilakukan di lembaga formal namun juga bisa di adakan di lembaga non formal. tetapi kadang kita tidak mempunyai nyali untuk ber pendidikan di lembaga non formal. padahal banyak juga tokoh yang betul betul lahir dari pendidikan non legalitas pemerintah. kitapun paham bahwa di negara kita -indonesia.- tidak semua orang punya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak. indonesia bukan negara islam yang memberiokan pelayanan pendidikan secara gratis kepada warganya, karena memang menuntut ilmu itu diwajibkan dalam islam. kitapun paham bahwa indonesia merupakan negara yang kurang laku pendidikannya dibandingkan negara-negara tetangga lainnya. tapi kita jangan berkecil hati dengan mengatakan bahwa kita tidak bisa berpendidikan karena dalam hati kita masing-masing
Allah telah tanamkan fitrah yang senantiasa belajar dan mencari pendidik- pendidik yang selaras dengan apa yang di inginkan oleh tuannya.
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
12:14
|
Link ke posting ini
Label: TanPas
HAKIKAT FUNGSI MANUSIA
1. Manusia sebagai hamba Allah ( Abdullah )
Maksud diciptakan Manusia antara lain agar dia mengabdi kepada Allah (Q.S. 51:56). Manusia diwajibkan beribadah kepada penciptanya, dalam arti selalu tunduk dan taat kepada perintahnya guna mengesakan dan mengenal-Nya dengan petunjuk yang telah diberikan.
Istilah Ibadah menurut Al Azhari dipergunakan hanya untuk menyembah Allah semata. Ibnu Taimiyah menformulasikan makna ibadah dengan segala usaha yang diperintahkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Ibadah mempunyai dua pengertian, yaitu pengertian khusus (khos) dan pengertian umum (aam). Dalam pengertian khusus, ibadah adalah melaksanakan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara hamba dan Tuhannya yang tata caranya telah disyariatkan. Sedangkan pengertian umum, ibadah adalah aktivitas yang titik tolaknya ikhlas (murni) dan ditujukan untuk mencapai ridha Allah berupa amal saleh.
Dari segi sasarannya, ibadah dapat diklasifikasikan atas tiga macam, yaitu
- Ibadah person, pelaksanaannya tidak melibatkan orang lain, tetapi dari pihak individu sebagai hamba Allah. Misalnya, amaliah keagamaan yang bersifat ritus seperti sholat, puasa, dsb.
- Ibadah antarperson, pelaksanaannya bergantung pada pihak bersangkutan tetapi membutuhkan keterlibatan orang lain. Misalnya, pernikahan, jual beli, dsb
- Ibadah sosial, kegiatan interaktif antar masing-masing individu dengan pihak lain yang dibarengi dengan kesadaran diri sebagi hamba Allah SWT.
Dari itulah, ibadah adalah keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia termasuk kehidupan duniawi, yang dilakukan dengan sikap batin, serta niat pengabdian dan penghambaan diri kepada Allah Swt. Sebagai tindakan yang bermoral untuk memperoleh
ridha-Nya.
2. Manusia sebagai Khalifatullah
Penciptaan manusia sebagai makhluk yang tertinggi sesuai dengan maksud dan tujuan terciptanya manusia untuk menjadi khalifah. Secara harfiah khalifah berarti yang mengikuti dari belakang. Jadi, manusia adalah wakil atau pengganti di bumi dengan tugas menjalankan mandate yang diberikan oleh Allah kepadanya, membangun dunia sebaik-baiknya (Q.S. 2:30).
Sebagai khalifah, manusia akan dimintai pertanggung jawaban atas tugasnya dalam menjalankan mandate Allah (Q.S. 10:14).
Adapun mandat yang dimaksud adalah:
- patuh dan tunduk pada perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
- bertanggung jawab atas kenyataan dan kehidupan di dunia sebagai pengemban amanah.
- berbekal diri dengan ilmu pengetahuan, hidayah agama dan kitab suci
- menerjemahkan segala sifat-sifat Allah pada perilaku kehidupan sehari-hari dalam batas kemanusiaannya atau
- melaksanakan sunah-sunah yang diridhainya.
- membentuk masyarakat islam yang ideal yang disebut dengan ummah
- mengembangkan fitrahnya sebagai khalifatullah yang mempunyai komitmen, kesadaran, kemerdekaan, dan kreatifitas.
- menjadi penguasa untuk mengatur bumi dengan upaya memakmurkan Negara untuk kesejahteraan masyarakat yang beriman.
- membentuk suasana aman, tentram, dan damai di bawah naungan ridha Allah dengan asas; ukhuwah islamiah, silaturrahim, ta'awun, rauf (kasih saying), sabar, tasamuh (toleransi), musawah (persamaan) adil, kreatif, dan dinamis.
3. Manusia sebagai Warosatul anbiya'
Kehadiran nabi Muhammad SAW dibumi sebagi rahmatal lil alamin (Q.S. 21:107), yaitu suatu misi yang membawa dan mengajak manusia dan seluruh sekalian alam untuk tunduk dan taat pada syari'ah dan hokum Allah guna kesejahteraan, kedamaian, dan keselamatan dunia
akhirat.
Ada tiga kekuatan rohani pokok yang berkembang padapusat kemanusian manusia (antropologis centra) yaitu:
- Individualitas, yakni kemampuan mengembangkan diri pribadi sebagai makhluk pribadi
- Sosialitas, yakni kemampuan mengembangkan diri selaku anggota masyarakat.
- Moralitas, yakni kemampuan mengembangkan diri selaku anggota masyarakat berdasarkan moralitas (nilai-nilai moral dan agama)
Di samping itu, misi tersebut berpijak pada trilogi hubungan manusia, yaitu:
Hubungan Manusia dengan Tuhan, karena manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya.
Hubungan Manusia dengan Masyarakat, karena manusia sebagai anggota masyarakat.
Hubungan Manusia dengan Alam sekitar, karena manusia selaku pengelola, pengatur, serta pemanfaatan kegunaan alam.
Trichotomi dan Trilogy hubungan tersebut harus dilaksanakan secara simultan, serta seimbang, sehingga keselamatan orang lain dipentingkan, sentara keselamatan diri sendiri tidak dilalaikan.
Manusia selaku cendekiawan dan intelektual muslim yang mewarisi misi kerasulan Nabi Muhammad SAW, dituntut untuk mengembangkan serta menempuh berbagai jalan untuk melestarikan misi tersebut. Dalam kaitan pendidikan, misi tersebut dapat dilakukan dalam proses belajar – mengajar, yang satu pihak menjadi pendidik dan pihak lain menjadi anak didik. Wallahu a'lamu bish showab
____________________________________________________________________________________
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
11:31
|
Link ke posting ini
02 Mei, 2007
SIAPA ORANG PENTING?

Terlahir sebagai orang penting. Ada tidak ya? Paling-paling juga dia jadi penting bagi orang lain karena suka mementingkan orang lain dalam segala hal, atau mungkin juga dia jadi orang penting karena memang di butuhkan orang lain untuk kepentingan mereka. Kepentingan. Keinginan mungkin sama dengannya. Tapi, kepentingan inilah yang membuat manusia tetap hidup dan berkembang di dunianya.
Diakui atau tidak kita harus menjadi orang yang penting dan mementingkan orang. Karena hidup itu sendiri penting kita perhatikan. “memang baik jadi orang penting, tapi akan lebih penting kalau jadi orang baik”, kata Laily ringan. Saya tersentak mendengarnya, bukan karena dia yang berkata, tapi tapi karena kata-katanya yang menyentuh pikiranku. Sepertinya sekarang saya harus lebih sering bercakap dengan alam sekitar. Kita perlu mengerti bahasa tumbuhan dan binatang, walaupun sebagian manusia menyamakan kita dengan binatang. Siapa yang mau disamakan dengan binatang?
Isyarat ilmu ada di mana-mana. Isyarat itu tidak akan hilang selagi alam belum hancur, sampai kapan isyarat itu akan habis masa berlakunya?. Bagi seseorang isyarat itu akan sama dengan usia dirinya. Tapi sedikit yang akan memahami isyarat ini, apalagi bagi seseorang yang tidak berpikir dengan jernih. Dunia ini penuh dengan isyarat. Isyarat itu beragam macam jenisnya. Manusia mengetahui sesuatu karena dia memahami isyarat.
“Dan Dialah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikannya petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kebesaran (Kami) kepada orang-orang yang mengetahui”.
(Surah Al An’am:97)
Disamping itu ilmu bagi pendahulu kita (yang hidup saat ini) bukan di kertas tapi di hati dan pikiran, “al ‘ilmu fissudur laa fissuthur”. Kita kadangkala menyaksikan pemandangan yang sebenarnya tidak enak dipandang. Seorang professor yang gagal memberikan pelatihan karena lap top(data presentasi)nya ketinggalan. Bagaimana kader-kader kita akankah pengalaman seorang professor tadi akan terulang ke-sekian kalinya. Kita lah yang menentukannya. Tapi kita sama-sama mengharapkan menjadi orang yang peka dengan isyarat alam ini sehingga kita bisa menjadi orang penting bagi masyarakat dan memberikan kebaikan dengan ilmu yang kita ketahui itu. Amin. Amin. Amin.
Aktualisasi boleh, tapi bukan untuk menyombongkan diri. “Kebolehan” boleh diuji, tapi bukan untuk membanggakan diri. “Kebanggaan” itu perlu kita miliki untuk menjadi orang yang diperhitungkan oleh Kholiq dan Makhluqnya. Dengan demikian kita akan menjadi orang penting karena mementingkan orang lain, bukan sebaliknya, kita penting karena dibutuhkan orang lain untuk kepentingan mereka. Karena kita hidup bukan untuk memuaskan kepentingan dan keinginan manusia tapi kita hidup untuk mengikuti keinginan Allah swt semata. Karena itu ridhoNya lah yang kita cari. Semoga sukses menjalani kehidupan ini dengan kesuksesan yang gemilang. Wallohu a’lamu bishshowaab.
Damanhuri Kh. Rahbini
Kamis, 12 shafar 1428 H/ 01 maret 2007 M
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
10:19
|
Link ke posting ini
Label: Artikel
30 April, 2007
DUNIA "MAYA"?

Surabaya, 28 Maret 2007 M / 10 Robiul Awal 1428 H.
Hidup dalam kepura-puraan. Tidak jelas siapa yang benar dan siapa yang salah. Hidup yang tidak jelas tujuan akhir dan kapan hidup itu “dimulai”. Tapi dunia sekarang lebih suka (baca demen) dengan hidup yang serba pura-pura. Tapi sedahsyat apapun mereka berpura-pura melebur dengan orang yang baik-baik, berdiskusi dengan orang yang rajin baca, bermain dengan orang yang hobi main, bercanda dengan orang yang suka humor, semoga dan semoga saja kita tetap dikaruniai ‘mata’ yang tetap eksis dan berdaya fungsi yang maksimal sehingga kita (baca mahasiswa muslim) mampu membedakan siapa yang hanya berpura-pura dan siapa yang tidak berpura-pura. Semoga. Amin.
Masihkah mereka akan tetap berpura-pura tidak mengerti kondisi moral “negeri” kita. Atau barangkali (tapi bukan kalidamen atau kali mas-nya Surabaya) mereka benar-benar tidak melihat dengan mata hati atau setidaknya melihat dengan mata kepala kalau diluar sana sering kita jumpai suatu hal yang tidak patut dipertontonkan oleh seorang manusia yang benar-benar manusia. Kondisi dan situasi yang menuntut kita untuk berlari cepat mengejar dan menangkapnya dan selanjutnya mengubahnya menjadi situasi yang menentramkan kita dan menyejukkan mata. Seperti hari ini, sekitar jam 12 siang dalam perjalanan pulang ke kampus kita ini, penulis menyaksikan seorang bocah perempuan yang kira-kira berumur lima tahunan sedang bersama adiknya yang masih belajar berjalan melihat dengan penglihatan yang memburu, serta mempelajari dan selanjutnya meniru dua muda mudi es-em-u yang sedang –maaf, untuk lebih sopan-lebih baik untuk kita ucapkan-ber”acting” di atas sepeda motornya tanpa ada rasa takut –rasa malu-sedikitpun, bahkan dengan bangganya dan dengan jelasnya mengerjakan hal yang demikian di depan umum. Dua muda mudi itu dengan jelas dan tanpa ada sikap kepura-puraan sedikitpun, mereka melangkah dan berbuat dengan kemantapan. Sementara si bocah yang dalam ilmu psikologi masih dalam taraf anak-anak yang senantiasa peka dengan hal baru dan berpetualang untuk mencari panutan, dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun dia memandangnya sampai mereka hilang dari pandangannya. Akankah kita terus dan eksis dan kepura-puraan sedangkan kita menyampaikan apa yang diperintahkan Allah-penjamin orang beriman.
Maka sudah semestinya kita tampil jantan dan dengan langkah mantap dalam menyuarakan kebenaran. Karena jika kita ragu-ragu untuk bertindak karena takut berhadapan dengan kritikus ulung, maka kita tidak akan pernah berbuat selamanya. Maka lakukanlah apa yang kita yakini kebenarannya, jelas manfaatnya, diridhai Allah dan disetujui oleh orang-orang yang berakal dan ikhlas. Dan selanjutnya tulislah apa yang kita yakini dan katakanlah apa yang ingin kita katakan dengan jelas dan tidak membingungkan. Bukankah Al-Quran sudah menjelaskan qul innani ana muslimun, maka katakanlah nasehatmu dengan kebanggaanmu sebagai seorang muslim. Dan terakhir semoga kita tidak termasuk dalam golongan orang yang berpura-pura, sehingga tidak ada kata-kata; DA’I PURA-PURA, SARJANA PURA-PURA, MAHASISWA PURA-PURA, PENGURUS PURA-PURA, MUROBBI PURA-PURA atau PENULIS PURA-PURA. Wallohu a’lamu . semoga. Semoga. Amin.
Damanhuri Kh. Rahbini.
Bukan mahasiswa pura-pura
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
07:57
|
Link ke posting ini
25 April, 2007
JARINGAN MEDIA JURNALISTIK KAMPUS
Sejak awal berdirinya negara kesatuan Indonesia, sejarah menunjukan kontribusi kampus-kampus terhadap banyak perubahan mendasar di negeri ini. Kaum terpelajar muda menampakan dirinya sebagai tenaga pendorong pembaruan bangsa. Sejarah mengukir pengorbanan yang luar biasa dari kaum muda ini dalam mengarahkan bangsa ini ke zaman reformasi yang kita nikmati hari ini.
Kaum terpelajar muda tampaknya terus menjadi penyeimbang dalam kancah kehidupan bernegara di Indonesia. Kaum terpelajar muda bahkan merupakan kekuatan yang tidak mungkin di abaikan begitu saja - terbukti Pak Amin rela meninggalkan kepemimpinan sidang MPR-nya untuk menemui kaum muda yang berada diluar gedung pada saat SU MPR lalu.
Pertanyaannya – apakah kaum terpelajar muda ini harus terus menerus menggunakan pola aksi demonstrasi fisik dan berhadapan dengan PHH dalam menyampaikan aspirasinya? Berapa banyak tumbal kaum terpelajar muda lagi yang harus berkorban untuk ibu pertiwi? Mungkinkah jumlah pengorbanan jiwa & raga kaum intelektual muda dikurangi tanpa mengurangi tujuan mulia yang ingin dicapai? Alternatif apa yang mungkin digunakan?
Sun Tzu ksatria Cina tahun 500 S.M. dalam bukunya The Art of War mengatakan ". . . attaining one hundred victories in one hundred battles is not the pinnacle of excellence. Subjugating the enemy's army without fighting is the true pinnacle of excellence." Singkat seninya – bagaimana mencapai tujuan & musuh kalah tanpa bertempur dan berkorbanan secara fisik! Teknik information warfare & psychological warfare melalui jaringan media massa barangkali menjadi kuncinya.
Media massa menjadi alternatif yang paling sederhana yang memungkinkan fungsi penyeimbang terus di emban tanpa perlu mengorbankan kaum intelektual muda dalam proses pencapaian tujuan-nya karena harus secara fisik berhadapan dengan PHH. Yang lebih gila lagi barangkali – jika berbentuk jaringan media jurnalistik kampus secara mandiri dimotori kaum intelektual muda.
bagaimana jika kaum intelektual muda ini membangun jaringan media jurnalistik kampus yang tersebar di nusantara mengkaitkan semua kampus yang ada. Keberadaan jaringann media cetak, media radio, media TV bahkan media Internet di kampus secara mandiri & swadana akan mempunyai nilai strategis sangat tinggi sebagai penyeimbang bangsa – bahkan mungkin menjadi MPR tandingan jika di dukung dengan informasi yang lebih lengkap dan akurat di bandingkan MPR-nya Pak Amin.
Koran kampus & Radio Kampus bukan barang baru bagi sebagian kampus di Indonesia. Dasar kemampuan jurnalistik mahasiswa telah ada & tinggal di poles supaya menjadi lebih profesional yang secara simultan harus di barengi strategi regenerasi. Yang perlu kita lakukan selanjutnya adalah membuat koran-koran ini menjadi sebuah kesatuan aksi dalam jaringan informasi memanfaatkan infrastruktur yang ada. Teknologi warung internet yang memungkinkan akses Internet dengan murah dan terjangkau akan memicu kemudahan ini semua.
Bayangkan impact yang akan dihasilkan jika koran & radio kampus di 1300 PTS seluruh Indonesia dapat dikaitkan menjadi satu kesatuan. Bayangkan jika juta-an mahasiswa dapat memfungsikan dirinya sebagai reporter & pemberi fakta yang aktual dan akurat. Bayangkan jika hasil analisis mendalam dari ribuan kaum intelektual muda dalam bentuk laporan, tugas akhir, paper dll dapat terdistribusi dalam platform knowledge infrastruktur yang dibangun secara mandiri & swadana.
Efek jaringan media jurnalistik kampus dengan kekuatan ribuan reporter, ribuan outlet jelas akan menjadi penyeimbang yang tidak bisa di sepelekan. Sekarang saja koran virtual Mas Budi detik.com di Internet yang dengan kekuatan redaksi beberapa orang dan reporter puluhan saja dapat secara perlahan menjadi saingan berat kantor berita Antara maupun koran-koran di Indonesia.
Saya pikir, untuk memfasilitasi semua ini sebetulnya sederhana saja – hanya tempat diskusi rekan-rekan intelektual muda di kampus-kampus secara elektronik di mailing list Internet. Saya rasa fasilitas mailing list seperti majordomo@itb.ac.id bisa digunakan sebagai modal awal untuk pembangunan jaringan media jurnalistik kampus di Indonesia. Silahkan menghubungi saya di onno@indo.net.id atau kelompok cnrg@itb.ac.id untuk koordinasi lebih lanjut. Mudah-mudahan jaringan media kampus ini bisa menjadi tulang punggung pembaruan di Indinesia.
Diposkan oleh
Damanhuri Khazin
di
08:51
|
Link ke posting ini
